Our KKN (2/2)

Tertanggal 12 – 30 Juli 2016

Hai lagi. Bagian ini merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya.

Ceritanya Silaturahmi | Source: OPPOne Rita
Selepas Idul Fitri kami kembali ke Tanjung untuk menyelesaikan tugas yang menanti. Berhubung ini suasana lebaran, teman-teman banyak membawa buah tangan dari daerah masing-masing yang nantinya akan dibagikan ke beberapa warga Tanjung atau kami nikmati bersama. Jujur, selama satu minggu pertama kami isi dengan silaturahmi ke beberapa warga (tidak akan cukup kalau semua). Percaya atau tidak, kami hampir tidak melakukan kegiatan masak-memasak karena beberapa warga menjamu kami dengan makanan berat. Dan kalau tidak salah, stok makanan kami aman gegara ada acara syawalan yang untungnya tidak cuma di satu rumah. Ehe.

Mini Library
Hm proker individuku yang belum rampung adalah pengadaan buku. Proker ini sinergi dengan Bastian. Dia membuat perpustakaan mini di dukuh, aku yang menyuplai bukunya. Beberapa proker seru yang kukerjakan bersama teman-teman adalah pendataan warga, membuat papan infomasi dan membersihkan desa (makam dan tempat ibadah). Pendataan warga yang kumaksud sebenarnya sederhana. Kami hanya diminta pak Dukuh untuk mendaftar dan menyortir beberapa dokumen data diri. Such as KTP, KK, Surat Nikah, Akta Kelahiran etc. Yang lengkap dan tidak lengkap dipisahkan. That’s all.

Nah perjuangan fisik yang menakutkan kurasa ada di proses pembuatan papan informasi. Kami melakukan pembelian material dua kali angsur. Pembelian pertama kita angkut dengan mobil pick up, yang kedua terpaksa menggunakan motor. Gile. Horor juga membawa seng dan kayu panjang menyusuri jalan yang menanjak berliku. Tapi proses pembuatan dan pengecatannya tidak begitu sulit karena kami dibantu pak Dukuh.

Papan Informasi
Di Tanjung ada empat tempat ibadah. Satu mushalla, dua masjid dan satu kapel (rumah ibadah Kristiani setingkat mushalla). Mushalla Al-Husna kami bersihkan saat bulan Ramadhan. Masjid Miftahul Huda dan Al-Barokah kami bersihkan saat akhir masa KKN. Begitu pun kapel. Pembersihan yang kami lakukan seputar lingkungan dalam dan luar mesti. Ya kita sapu dan pel. Lantai, jendela dan langit-langit kita bersihkan. Perabot juga tidak luput dari jangkauan kami. Selain tempat ibadah, kami juga membersihkan makam. Hal yang kulakukan hanya mencabuti rumput liar yang mengganggu.

KKN UIN SUKA periode 89 berlokasi di Kulonprogo dan ditempatkan pada tiga kecamatan; Kalibawang, Kokap dan Galur. Teman-teman IP tentu terbagi di tiga kecamatan tersebut. Aku pernah berkunjung ke posko Imam di daerah Kokap. Selain silturahmi aku juga mau mengambil buku sumbangan. Buku tersebut aku dan kak Feri (teman se-kos yang kebetulan satu kelompok KKN dengan Imam dan menjabat ketua) dapat dari Aida (anak IAA).  

Aku dan Bastian melewati jalanan yang naik turun demi mencapai posko Imam. Kita beberapa kali kesasar. Selain itu rutenya juga jauh. Kami ke Kokap siang hari. Padahal malam harinya kami ada acara perpisahan dengan masyarakat. Di posko Imam, kurasa lebih plosok dari posko kami. Mungkin penerangan belum merata, soalnya kak Feri pernah bikin program pengadaan lampu penerangan jalan. Dan jaringan bahkan lebih susah dari lokasi poskoku. Cuma menurutku, secara geografi posko Imam nyaman. Dekat masjid dan masjidnya pun bagus, sangat memenuhi kriteria untuk disebut masjid. Padahal dusun Sangon II menurutku terpencil juga. He.

Salah satu pengalaman yang tidak bakal terlupa bagiku adalah saat harus memasak untuk anak-anak se-posko. Haha. Aku pribadi bukan tidak paham pengetahuan tentang memasak, tapi sangat minim dalam praktik. Dua orang cowok yang lain juga sama saja sih. Tapi kita tidak takut. Mencoba pasti bisa. And, selama dua kali kami memasak untuk teman sekelompok, bisa dibilang sukses. Kali pertama kami memasak sup dan perkedel tahu. Hasilnya? Ludes. Katanya sih enak weeeeeee :P. Kali kedua, Bastian memasak telur orak-arik dan teman-teman suka. Aku sih menikmati proses ini. Soalnya sambil membayangkan menjadi Souma :v. Toh juga kalau temen-teman keracunan, aku masih sedia asuransi kesehatan. Ya kali ada yang semaput gegara masakan kami :3

Mungkin, aku perlu menyampaikan siapa saja keluargaku di Tanjung. Baik itu teman kelompok ataupun keluarga dukuh. Karena sudah panjang tulisan ini tapi belum ada penjelasan siapa aktornya. Iya engga sih?
Atas Ki-ka: Priesta, Batian, Bu Dukuh, Pak Dukuh, Akmal
Bawah Ki-Ka: Niha, Rita, Rosi, Nuri, Fitri, Luthfi

Bastian Diaz Manggalya. Teman sejurusan yang beda kelas. Asal dari Sleman. Anaknya ‘penakan’/fleksibel. Suka bercanda, baik kepada kawan dan teguh prinsip. Karena pernah menjabat sebagai ketua organisasi, kerjasama Bastian bagus dan orangnya tanggung jawab. Bastian suka merokok, ngobrol sampai larut dan cari sinyal. Haha. Anak ini rajin kalau piket cuci piring tapi malas buat bangun subuh. Bastian bisa diajak kerja dan sering turun gunung untuk menyukseskan proker. Dia berbakat di bahasa Jawa halus dan bisa membaur dengan orang-orang tua maupun anak-anak.

Nuri Hidayati. Sekretaris kelompok. Jurusan Keuangan Islam. Asal Kebumen. Anaknya cerewet dan rempong. Kudu diperlakukan halus. Orangnya perfeksionis tapi diakhir juga lumayan realis. Si Nuri suka menceritakan hidupnya (saat teman-teman putri ngerumpi, obrolan mereka tembus sampai kamar cowok yang Alhamdulillah cuma disekat pakai papan). Orangnya tanggung jawab dan sregep. Bisa memobilisasi yang lain untuk kerja. Nuri pandai dan telaten dalam mengajari anak-anak utamanya ketika kegiatan TPA.

Luthfiana Athohani. Bendahara kami. Jurusan Perbankan Syariah. Asal Klaten. Anaknya kalau ngomong nyelekit. Bisa diajak kerja tapi harus selalu diintruksi. Kadang kurang peka sekitar. Tapi selalu mem-back up tim secara tidak langsung. Luthfi bisa mengelola dengan baik uang kami soalnya dia pelit dalam pengeluaran anggaran. Dan benefitnya, kita hanya mengeluarkan sedikit uang ketika harus iuran bersama. Dia paling jago bikin kami tertawa dan selalu mencetuskan istilah baru yang pneumonic.

Fitriyatul Ummah. Jurusan Pendidikan Matematika, asal Cilacap. Fitri anak pondok Wahid Hasyim. Makanya dalam beberapa hal dia terkesan lugu. Anaknya rajin dan peka sekitar. Meski paling muda, pikiran Fitri dewasa dan bisa analisis situasi. Etnis ngapak. Kadang ada bahasa khas daerahnya yang digunakan dalam percakapan. Walhasil kami bingung dan agak lama untuk recognizing. Orangnya kompak dan selalu siap utamanya dalam kerja kelompok. Pandai dan telaten dalam mengajari anak-anak.

Priesta Romukti D. Anggota tertua di kelompok ini asalnya dari Purworejo, jurusan Kimia. Orangnya sedikit kaku dan kurang bisa berbaur dengan kami secara luwes. Mungkin karena beda usia dan jarang terlibat kerja kolektif. Orangnya paling rajin kalau masalah nyapu halaman depan posko. Suka merokok, kopi dan tidur larut. Biasanya menyendiri. Mas Priesta paham unggah-ungguh Jawa dan mudah membaur lewat percakapan ringan.

Niha Nadhifah. Asal Pati/Wates. Jurusannya Komunikasi dan Penyiaran Islam. Anaknya suka nonton anime, sama kaya aku. Suka Jepang dan Korea. Sering bawel masalah piket masak dan cuci piring. Dia yang paling bisa membangunkan Bastian untuk makan sahur. Anaknya selalu semangat dan hampir tidak pernah kelihatan sakit. Tapi, sekali anak ini tidur, susah dibangunkan. Aneh ya? Niha berbakat di gambar. Baik itu sketsa (dengan tangan) atau menggunakan aplikasi. Jago di bagian broadcast (sesuai jurusan), bisa editing video. Niha suka sekali anak-anak.

Rita Octavia. Rumahnya di Payakumbuh, Padang. Jurusan yang diambil Bahasa dan Sastra Arab, masih satu fakultas. Kami teman satu kelompok ospek dan kelas bahasa PB. Anaknya pendiam. Tapi merupakan mood maker yang di-bunda-kan oleh teman-teman putri. Selalu mem-back up tim secara tidak langsung. Bahasa Arabnya bagus. Rita suka buah pepaya dan menyanyi (sounds like Rita Sugiarto?). Aku sering melihat dia beli pepaya atau titip beli pepaya pada teman yang ke pasar. Sering kudengar dia bersenandung. Tidak banyak bicara namun memperhatikan. Kadang memberi usulan yang cerdas kepadaku. Hal yang membuat kami bertanya-tanya selama sebulan adalah sisi jelek Rita apa ya? Tidak pernah bermasalah di kelompok. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah dia pandai memasak.

Rosi Islamiyati. Asal Klaten/Aceh. Jurusannya Filsafat Agama. Paling cerewet dan paling rame diantara teman satu kelompok. Anaknya manja tapi paling tahu cara mengajak teman-teman. Rosi rajin dan cerdas. Mungkin anak Filsafat begitu ya? Kalau di forum kadang kala ngeyel. Rosi jeli melihat situasi dari sisi berbeda. Anak ini suka nyanyi dan jalan-jalan. Biasanya dia yang paling depan kalau urusan jalan-jalan. Pandai dan telaten dalam mengajari anak-anak. Dia senang bermain dan belajar dengan anak-anak. Jago masak, biasanya duet dengan Rita.

Bapak Kuntarto. Bapak dukuh yang bersedia menampung kami, asli Tanjung. Beliau sangat terbuka orangnya, baik secara karakter atau pemikiran. Pak Kun tangkas melakukan berbagai teknis. Kelebihan beliau juga adalah bisa memobilisasi orang dan diplomatis saat berbicara. Pak Kun sangat giat. Dan satu sisi yang kutahu (ketahuan di posko), beliau orangnya romantis :D. Sebagai dukuh yang mendampingi kami, beliau memberikan keteladanan lewat ide cerdas dan kerja tangkas. Keren.

Cie Kori diremuni mbak e
Ibu Sukamti. Istri pak dukuh yang katanya tetangga sendiri :v. Ibu dukuh orangnya ceria dan selalu setia mendengarkan cerita kami. Beliau juga memberikan pendampingan kepada kami dalam realisasi program kerja meski tak se-intensif pak dukuh. Tapi pendampingan masalah keseharian semisal memasak, sangat sering beliau lakukan. Kita banyak belajar bagaimana hidup sederhana tapi bersahaja dari beliau.

A. Bukhari. Anak dari pak dukuh dan ibu dukuh. Sekarang sudah kelas satu Tsanawiyah. Saat Ramadhan, Kori (panggilan akrabnya) masih di rumah dan sering menemani kami baik dalam program kerja ataupun bermain. Anaknya ceria dan cerdas. Beliau mewarisi bakat pak dukuh dalam hal merangkul banyak kalangan hehe.

Cerita bahagia datang ketika ada pesan masuk bahwa proposal tembus. Hore. Pihak sponsor memberikan kami fresh money senilai 300 ribu rupiah. Uang tersebut akan digunakan untuk melancarkan kegiatan kami. Mas Priesta juga berbaik hati menyumbangkan voucher belanja senilai 300 ribu rupiah. Aku dan mas Priesta mengambil voucher itu di rumahnya Purworejo. Lumayan kan bisa jalan-jalan dan tahu daerah lain hehe. Selain itu aku juga berhasil me-lobby pamanku (yang kebetulan kepada desa) untuk menggelontorkan dana senilai 500 ribu rupiah untuk membantu program kerja. Belum lagi, ada teman ibuku yang berbaik hati memberi dana 200 ribu rupiah untukku. Makmur tanpa usaha terlalu keras :3

Ketika masa KKN, ada salah satu warga yang menyelenggarakan walimah. Kami diundang untuk hadir. Ya walaupun disana kami hanya makan dan foto-foto. Haha. Tapi setidaknya, kami juga memberikan kado untuk kedua mempelai. Prosesi adatnya berbeda dengan yang biasa dilakukan di daerahku. Ada sesi saling lempar bebatan daun sirih (yang entah isinya apa), melewati telor yang dipecahin dan mencuci muka (kalau tidak salah) dari air kembang tujuh rupa. Wow.

Dua Kelompok Satu DPL | Source: HPne uwong, cah Ayu 
DPL kami orang Magelang, dari desa Mendut. Paska Idul Fitri, beliau punya gawe; walimatul khitan putranya. Kami diundang untuk membantu among tamu atau tepatnya penerima tamu. Di bawah bimbingan pak Fatkhan, ada dua kelompok KKN yaitu kelompokku dan Anggi. Kedua kelompok datang untuk membantu. Sialnya, kami datang ketika hujan deras. Tak apalah. Haha. Acara berlangsung meriah. Namun kami tidak dapat mengikuti hingga usai. Sekita pukul sepuluh lewat, kami pulang ke posko. Tentu hal ini dilakukan karena kami takut untuk ambil resiko pulang terlalu malam meski kita dalam satu grup berkendara motor. Belakangan kami ketahui bahwa acara khitanan selesai jam 3 pagi. Rangkaiannya sederhana, ada sambutan, penampilan shalawat dan puncaknya adalah tausiyah dari Habib Umar Bafaqih (saya tidak ingat nama lengkap beliau). Undangan yang hadir banyak. Sekitar tujuh ratus orang lebih. 

Sempat kusinggung bahwa kadang kami memiliki waktu untuk santai dan jalan-jalan. Sebenarnya aku juga kasihan melihat teman-teman yang kesannya kurang piknik apalagi teman-teman putri. Maka kami juga menentukan jadwal kosong untuk dialokasikan ke jalan-jalan. Dua tempat yang menurutku berkesan itu adalah Puncak Suroloyo dan Curug.

Suroloyo merupakan sebuah dataran tinggi, mirip pengunungan. Track yang kami lalui juga menanjak-nanjak. Kami semua berangkat pagi ke Suroloyo, namun ketika sampai di lokasi tetap tidak kebagian sunrise. Kalau tidak salah, tidak ada retribusi wisata. Tapi kami tetap harus membayar parkir. Menurutku, tempatnya tidak begitu terawat dan apa ya menariknya? Kita perlu menanjaki tangga untuk sampai ke puncak. Cukup panjang dan terjal. Lagipula suhunya juga rendah, nafas kami jadi cukup pendek. Sampai diatas (yang ternyata cuma terdapat satu gasebu), hal yang kami lakukan cuma foto-foto haha. Sepanjang yang kulihat, hanyalah hamparan pembukitan yang nampak dari ketinggian. Agak berkabut juga. Tapi yah lumayan lah karena ini bisa jadi merupakan tanah tertinggi yang pernah kupijak.




Kedua, curug. Dalam bahasa Jawa, curug artinya air terjun. Aku lupa nama air terjunnya. Tapi kurasa tempat ini masih berjuang untuk menjadi tempat wisata yang besar. Curugnya tidak terlalu besar dan deras tapi alirannya agak panjang. Airnya dingin dan kebiruan. Beberapa spot terdapat tempat nongkrong. Bahkan ada yang di ketinggian juga. Menurutku tempatnya menarik, adem dan bikin betah. Namun kurang greget untuk kita bilang tempat wisata eksotis. Retribusinya kalau engga salah lima rebu dan ada uang parkir. Di tempat ini kami hanya lebih banyak berfoto sementara anak-anak dusun (merekalah yang mengajak kami kesini) bisa dengan riang berenang dan main air. Aku juga sempat menjadi fotografer pribadi Bunda. Semoga hasilnya berkesan :D



Ada yang datang, ada yang pergi. Begitu pun kami. Kalender sudah mencapai akhir bulan. Beberapa hari lagi sudah bulan baru. Akhir bulan merupakan batas kami ada di Tanjung. Banyak hal yang kami dapat di Tanjung; pembelajaran, keluarga dan kenangan. Dari itu, kita tidak bisa hanya pulang sambil lalu.

Teman-teman membuat acara perpisahan di dukuh. Kami mengundang kelurga dukuh, perangkat dukuh dan beberap figur yang membantu kami selama menjalankan program kerja. Acara itu kami kemas sederhana; dibuka dengan seremonial, laporan ketua kelompok, sambutan dari pak dukuh, penyampaian kesan dari kami, penyampaian pesan dari pihak masyarakat Tanjung dan diakhiri penutup.
Horeeee

Teman-teman menyampaikan apa yang mereka rasakan selama di Tanjung. Ya seputar bagaimana menjalankan program kerja, keseharian di Tanjung dan saat bersosial dengan masyarakat. Tidak banyak perbedaan dan aku ketawa mendengar satu persatu kalimat yang keluar dari lisan mereka. Tapi pada intinya di Tanjung kami berposes untuk lebih baik dan masyarakat di dusun ini sangat menerima kedatangan kami.

Ketika masyarakat yang angkat bicara, kami menyimak dengan seksama. Banyak pesan yang mereka berikan kepada kami. Masyarakat berpesan agar kami terus belajar dan mereka mendoakan kesuksesan kami. Mereka berharap agar kami tetap sering silaturrahmi ke Tanjung. Satu hal yang paling kuingat adalah kutipan pak Yitno Suwito, pak RW 55 ‘Perpisahan adalah tentang siapa yang pergi dan apa yang ditinggalkan’. Sedih mendengar hal itu. Kami harus meninggalkan lokasi sedang apa yang kami berikan belumlah seberapa meski masyarakat tidak pernah menuntut lebih.

Perpisahan dengan orang dewasa kami lakukan pada jumat malam. Sedang pada sabtu malam kami melakukan perpisahan dengan anak-anak. Bagian ini adalah bagian seru-seruan. Pasca maghrib (gila kan) anak-anak sudah rame berdatangan ke posko. Kita mau bakar jagung malam ini.  Bumbunya terbagi dua; olesan saos dan olesan cokelat. Tersedia mentega untuk memperkuat rasa gurih pada jagung. Selain itu, teman-teman juga membuat nasi kuning dengan berbagai lauk untuk disantap bersama-sama. Malam itu kami hanya makan, melakukan hal menyenangkan dan mengabadikan kenangan dalam bingkai lensa.

Minggu pagi kami sudah siap packing. Saat mobil jemputan datang, seluruh barang bawaan kami tata di box belakang. Lalu ini bagian paling berat, pamit kepada keluarga dukuh. Aku awali dengan memberikan kenang-kenangan berupa merchandise kepada pak dukuh. Kumulai dengan berat berkata-kata, bahwa kami berteri kasih atas penerimaannya di keluarga ini dan seluruh pembimbingan yang diberikan. Aku juga menyampaikan permintaan maaf atas segala perkataan maupun perbuatan tiap anak dari kelompok KKN yang sangat mungkin tidak berkenan di hati keluarga dukuh. Pak dukuh membalas ucapanku dengan meminta maaf. Beliau dan istrinya hanya bisa memberikan seadanya dalam proses belajar kami. Dan akhirnya kami melakukan salam sungkem. Tak disangka, air mata ibu dukuh tumpah. Teman-teman putri pun memberikan peluk tanda susah berpisah. Sejujurnya, kulihat pak dukuh juga menangis namun mungkin gengsi untuk menunjukkan kesedihannya.

Kami pulang, dengan perasaan yang campur aduk. Di belakang, laporan dan ujian masih menunggu. Namun sebelum itu, kami sepakat untuk berjalan-jalan dulu. (cerita jalan-jalan dan ujian KKN saya tulis di laman tumblr saya).

Pulang tidak berarti memutus silaturrahmi tapi semata karena masa KKN sudah purna. Dan ikatan ini harus selalu berkelanjutan. Karena kami punya keluarga baru, karena pengabdian kami tak sependek masa satu bulan.

See you...

Komentar